porosNUSANTARAnews --- email : porosnusantaranews@gmail.com porosNUSANTARA.news

Sabtu, 28 Mei 2016

AYAH

Ilustrasi Cinta Ayah (foto : istimewa)
Mungkin ibuku lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?

Semasa kecil, ibuku lah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih, ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku.

Saat aku sakit demam, ayah membentakku *"Sudah diberitahu, Jangan minum es!”*

Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis di depan ibu.

Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

RM Panji Sosrokartono

RM. Panji Sosrokartono
(foto : istimewa)
Kartono, nama lengkapnya

RM Panji Sosrokartono, lahir 1877. kakak RA Kartini.1898, pribumi pertama yg kuliah di luar hindia-belanda, laiden. Cerdas, kesayangan para dosen. bisa 27 bahasa asing & 10 bahasa nusantara.

Pangeran ganteng, pinter, gaul, anak orang kaya, terkenal, & merakyat. hayoo kurang apa lagi si cowo keren ini. cewe2 eropa nyebut si Sosrokartono, "de mooie sos." (sos yg ganteng).

Bule Eropa & Amerika sebut dia dgn hormat, 'de javanese prins' (Pangeran Jawa). Pribumi memanggil Kartono aja.

1917, jadi wartawan perang dunia1 koran amerika, the new york herald, cab. eropa. test masuk nya, memadatkan artikel bahasa prancis sejumlah 30 kata dalam 4 bahasa (Ingggris, Spanyol, Rusia, Perancis). Kartono lulus dgn 27 kata, para bule asli lebih dari 30 kata.

Sebagai wartawan perang, ia diberi pangkat mayor oleh sekutu, tapi nolak bawa senjata.

"Saya tak nyerang orang, krn itu saya pun tak akan di serang. jd apa perlu nya bawa senjata?"

Tentang Buku Induk Herbal dan Rempah~

foto : istimewa
500 Tahun lalu, para begundal kolonial merampok rempah kita untuk hidup di negara mereka. 400 Tahun lalu, para penjajah merampok herbal kita untuk menyehatkan istri, gundik dan keturunan mereka.

300 Tahun lalu, para perampok asing mencuri SDA kita untuk membangun kota-kota mereka. 200 Tahun lalu, para penjahat memerkosa kawan-kawan kita untuk menegaskan era perbudakan internasional. 100 Tahun lalu, mereka menipu kita dengan kurikulum, ilmu, agama dan kebudayaan palsu demi sesembahan dan inlanderitas kita terhadap mereka.

Mengulang 500 tahun lalu, para penjajah kini sibuk memetakan harta karun kita yang tak habis-habis dalam rangka memastikan 1000 tahun penjajahan ke depan. Mereka bersiap menjarah masa depan kita!

Jumat, 27 Mei 2016

Puisi Terakhir WS. Rendra

WS Rendra (foto: istimewa)
Hidup itu seperti *UAP*, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !!
Ketika Orang memuji *MILIKKU*,
aku berkata bahwa ini *HANYA TITIPAN* saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA ...

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
*MENGAPA DIA* menitipkannya kepadaku?
*UNTUK APA DIA* menitipkan semuanya kepadaku.

Dan kalau bukan milikku,
apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?
Malahan ketika diminta kembali,
_kusebut itu_ *MUSIBAH,*
_kusebut itu_ *UJIAN*,
_kusebut itu_ *PETAKA*,
_kusebut itu apa saja ..._
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah *DERITA*....

Ketika aku berdo'a,
kuminta titipan yang cocok dengan
*KEBUTUHAN DUNIAWI*,
_Aku ingin lebih banyak_ *HARTA*,
_Aku ingin lebih banyak_ *MOBIL*,
_Aku ingin lebih banyak_ *RUMAH*,
_Aku ingin lebih banyak_ *POPULARITAS*,

Maritime Labour Convention (MLC) 2006: Jangan Sampai Ada Dusta Antara Pemerintah dan Pelaut Indonesia


foto : istimewa
PNews - Indonesia dalam penerapan undang- undang yang mengacu pada Amandemen Retifikasi Maritime Labour Convention (MLC) sudah semestinya secara tidak langsung sudah berlaku saat ini, tinggal pemantapan dan implementasi yang fair kepada semua elemen kemaritiman nasional. Regulasi birokrasi pemerintah (Kemenhubla), pemilik kapal (Owner) dan pekerja (Pelaut) sudah sepatutnya menjunjung tinggi hasil dari kesepakatan Amandemen karena Indonesia adalah salah satu anggotanya.

Dalam pelaksanaannya saat ini seiring berjalannya waktu pemerintah terkesan separoh- paroh dalam implementasi untuk penerapan undang- undang peraturan yang berdasar pada Amandemen tersebut.

Artinya pemerintah masih merasa bimbang atau galau untuk melakukan seperti halnya negara- negara tetangga yang sudah lebih dulu menerapkan di negaranya. Logikanya pemerintah sudah menggeber dan menekan dengan serius tentang kelengkapan sertifikasi yang di miliki para Pelaut.